188

Atmosfer canggung mulai terasa saat mereka telah sampai di taman komplek.

Antara Athalia ataupun Raja, belum ada yang berani memulai topik pembicaraan. Raja yang merasa canggung, dan Athalia yang menunggu Raja untuk memulai terlebih dahulu.

“Thal.”

“Iya kak?”

“Maaf.”

Athalia hanya mengangguk pelan. Kepalanya agak tertunduk dengan pandangan mengarah ke bawah.

“Maaf, tapi jujur Thal, saya suka kamu bukan karena kamu mirip Raya.”

“Kak?”

“Iya?”

“Boleh aku tanya tentang siapa itu Raya?”

Raja mengangguk. “Raya itu adik saya, seumuran kamu. Raya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan.”

“Eh maaf kak? Harusnya aku gak nanya ya?”

“Gapapa, maaf juga karena udah buat kamu salah paham sama perkataan Mala beberapa hari lalu.

Jujur ya Thal, saya penasaran sama kamu awalnya karena kamu ngingetin saya sama Raya.

Tapi saya suka kamu karena kamu jadi diri sendiri Thal, serius.

Saya cerita ke Mala kalau pertama kali kita ketemu kamu mirip banget sama Raya, tapi Mala mungkin salah ngartiin.”

Athalia mengangkat kepalanya, “berarti cuma salah paham aja ya?”

Raja mengangguk.

“Maaf ya kak, dari kemarin aku menghindar terus gak mau dengerin penjelasan kakak.”

Raja tersenyum, “gapapa Thal, saya ngerti kok.”

“Kakak udah sehat?”

Raja mengangguk ragu.

“Bagus deh, tapi aku penasaran kakak sakit apa.”

“Nanti saya kasih tau, nanti ya Thal?”

Athalia mengangguk. “Berarti masalah kita udah selesai ya? Dan aku turut berdukacita soal Almarhumah Raya ya kak.”

“Iya, terimakasih Thalia.”

“Kapan-kapan saya ajak kamu ke tempat Raya ya?”

Athalia mengangguk semangat.

“Udah jam 8 kak, balik yuk? Takut mama papa udah pulang, aku lagi gak boleh keluar masalahnya.”

“Boleh, sekalian mau kenalan sama mama papa kamu kalau emang mereka udah pulang.”