raja untuk raya
Raja hanya bisa duduk dan tertunduk setelah sampai di tempat Raya.
Sekujur tubuhnya lemas, ia hanya bisa diam tertunduk. Satu tangannya mengelus batu nisan yang bersih tanpa ada tumbuhan liar disekitarnya.
“Yaya, maaf abang baru bisa jenguk Yaya hari ini.”
Suaranya begitu lemah dan bergetar. Pelupuk matanya pun sedang berjuang menahan air mata yang hampir terjatuh.
“Selamat ulang tahun kesayangan.”
Raja tersenyum. Netranya menatap teduh nisan di depannya. Tangannya bergerak menyingkirkan daun kering yang baru saja terjatuh.
“Maaf belum bisa jadi abang yang baik buat Yaya.
Abang kangen,
kangen digodain kamu kalau lagi main.
Heaven is beautiful ya Ya? I miss you alot. Banyak cerita seru yang mau abang ceritain ke kamu.
Dulu Yaya bilang mau liat abang pacaran kan? Tau gak Ya, sekarang abang udah ketemu perempuan cantik, seumuran kamu seharusnya. Yaya pasti suka, dia cantik, baik, abang suka banget Ya.
Abang udah ketemu kesayangan baru, tapi Yaya bakal selalu jadi kesayangan abang.
Sekarang Mala juga udah SMP, Mala kangen banget sama kakak cantiknya. Abang juga kangen sama adik cantik abang.
Nanti kapan-kapan abang ajak perempuan cantik abang ya? Kalau Yaya masih disini, pasti kalian akrab banget ya?”
Raja tak bisa menahannya. Menahan air matanya. Laki-laki itu menangis di samping batu nisan yang terukir nama Araya Abigail disana.
“Abang sakit Ya, tapi abang selalu berusaha buat sembuh. Abang masih mau nepatin janji abang ke Yaya buat jadi arsitek sukses.
Sakit Ya, asli. Sakit banget, ditambah abang harus selalu pura-pura baik-baik aja di depan semua orang.”
Raja berdiri, menatap dalam tempat peristirahatan terakhir adiknya tercinta.
“Abang selalu kangen Yaya. Yaya perempuan penting dihidup abang.
Maaf gagal jadi sosok abang yang seharusnya selalu jagain Yaya.
Maaf, Araya.”
Raja terdiam untuk beberapa saat, lalu badannya berbalik dan berjalan menuju Harsa dan Genta yang menunggu di pinggiran.
Cowok itu tidak malu untuk menunjukkan bekas tangisan di matanya pada teman-temannya, toh mereka pasti akan mengerti.
Harsa merangkul dan mengajak Raja untuk pergi lebih dahulu.
Sedangkan Genta masih berdiri menatap luruh ke arah makam Raya dengan buket bunga ditangannya.
Kini gilirannya. Gilirannya untuk mendoakan dan mengunjungi kekasihnya.