happy ending?

Kini sepasang kekasih itu telah sampai di depan apartemen Syakira. Maraka sengaja tidak memakirkan mobilnya di dalam dan mampir sebentar, karena keadaan sudah malam.

“Beneran besok kan pulangnya?” tanya Maraka.

“Iya, kenapa deh?”

“Ya gapapa, kangen aja. Besok aku anter ya ke kantor? Jangan nolak.”

“Idih siapa juga yang nolak, masih marah ya kamu aku berangkat sama Ajun?”

Maraka menggeleng cepat, tak tahan dengan ekspresi gemas Maraka, Jihan mencubit kedua sisi pipi Maraka dengan gemas.

“Yauda aku duluan yaa.” izin Jihan yang diangguki langsung oleh Maraka.

Baru saja Jihan berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja Maraka memeluknya dari belakang. Dengan senang hati Jihan berbalik dan membalasnya.

“Terakhir kali kita pelukan kayak gini kapan ya? Kangen deh.” ucap Maraka disela-sela pelukannya. Pelukan erat mereka.

“Minggu kemarin, udah lama juga ya.” jawab Jihan.

“Aku udah jarang kasih kamu pelukan kayak gini ya Ji? Besok bakal sering-sering deh.”

“Idih modus. Daripada kamu yang peluk duluan, kenapa gak aku aja ya? Hehe.”

Maraka hanya terkekeh, lalu melepaskan pelukan mereka penutup pertemuan. Jihan kembali berjalan sambil melambaikan tangannya pada Maraka yang masih diluar menunggu hingga gadis itu masuk ke dalam lobi.

—

“Lo kok nangis lagi si anjir Shak? Yang mau putus kan mereka.” tegur Calya.

“Ye lo liat dong itu anak berdua tulus banget. Lagi dulu waktu mereka masih pdkt gue sama Ajun yang comblangin ye, SEDIH BANGET ANJIR GUE, DENDAM BANGET GUE SAMA ITU KAKEK-KAKEK AKHH!”

Calya hanya tersenyum tertekan, “kembaran lo kenapa sih Ka?”

Shaka hanya menggeleng pelan, sejujurnya ia juga sedih mendengar masalah yang dialami temannya itu. Shaka tau betul betapa tulusnya Maraka untuk Jihan, dan Jihan untuk Maraka.

“Tapi gue percaya mereka bakal punya ending bahagia Shak, Cal.” gumam Shaka ditengah pikirannya.