Petunjuk

Keduanya telah sampai dikediaman Ale. Rumah yang tak terlalu megah tapi terlihat sangat nyaman ini menjadi satu-satunya tempat pelarian Nalendra.

“Tunggu disini, gue mau ambil barang buktinya dulu.”

Hasya mengangguk.

Beberapa saat kemudian Ale kembali dengan membawa sebuah flashdisk, sebuah barang bukti kecil dan lembaran kertas berisikan tanggal, waktu, dan tempat kejadian.

Jakarta Utara, 24 Februari 2020. Waktu pukul 21.45.

“Kejadiannya setelah pulang kerja?”

Ale mengangguk, “iya, tempat kejadiannya juga di deket kantor kakak gue. Lebih tepatnya di gudang tua bekas toko yang udah gak kepake.”

“Lo sempet kesana?”

“Iya, gue nemu barang bukti juga. Walaupun gak terlalu berguna.”

Hasya mengambil barang bukti tersebut lalu mengamatinya sebentar. “Kotak kado, buat apa?”

“Ale, coba puter isi CCTV di dekat TKP.”

Ale mengotak-atik laptopnya, lalu memutar isi rekaman yang sempat ia ambil lewat CCTV setempat beberapa bulan lalu.

Hasya mengamatinya dengan sangat serius, dengan teliti ia mengamati gerak-gerik pelaku yang memakai pakaian serba hitam.

“Kalau diperhatiin lebih teliti si pelaku ini agak picang kayaknya. Dari cara dia megangin kaki kanannya terus dan jalan dengan cara nyeret kaki kanan, pasti ada yang salah sama kakinya.”

Ale menatap Hasya kagum, pantas saja ia bekerja di kepolisian, pintar dan teliti.

“Waktu kakak lo ditemuin atau ngelapor ada luka atau lebam gitu gak Le?” tanya Hasya.

“Ada lebam dipipi kanan sama lengan kiri Sya. Tapi kakak gue cerita dia sempet ada perlawanan walaupun abis itu langsung dipukul pake kayu. Dan satu lagi, ini pelaku aromanya mirip-mirip kopi gitu.”

Hasya mengangguk mengerti, ia berpikir sejenak.

“Diminum dulu Sya,” ujar Ale menawarkan minuman yang ia bawa.

“Gak ada list orang-orang yang dicurigain gitu?”

Ale menggeleng, “tadinya ada, yaitu mantan pacar kakak gue. Tapi pas kejadian dia lagi lembur di kantornya yang di Bogor. Dan bener kok, dia ada jadwal lembur sama beberapa karyawan yang lain.”

“Dan setau gue mantan kakak gue ini gak ada riwayat kaki pincang atau apapun, sehat-sehat aja dia.” sambung Ale.

“Susah juga ya.” gumam Hasya.

“Gak usah dikejar banget Sya kasusnya, santai aja. Yang penting kita udah dapet petunjuk, itu udah cukup.”

Hasya mengangguk, belakangan ini kepalanya memang sering mengalami pusing yang membuatnya susah berkonsentrasi.

-wnsscc