Rahasia Hasya
“Sya, mas masih kenyang, mas numpang disini sebentar ya. Males nyetir kalau lagi kenyang gini.”
Selesai makan makanan yang Dewa bawa, keduanya memutuskan untuk menonton film di ruang tamu sambil berbincang-bincang.
“Yah mas, nanti jam 3 ada temen Hasya yang mau kesini. Emang mas mau disini kalau ada temen Hasya?”
Dewa merubah posisinya menghadap Hasya. “Temen kamu yang mana? Yang kecil pecicilan itu?”
Hasya mengangguk, “emang selain dia temen Hasya siapa lagi? Kan gak ada hehe.”
“Loh kan ada Mas, Mas Damar, sama Kak Esa, kita kan juga temen kamu.”
“Iya ya, Hasya nganggep kalian kakak selama ini.” Hasya tersenyum, benar-benar bersyukur telah bertemu orang baik seperti mereka.
Dewa mengelus pucuk kepala Hasya, Dewa benar-benar menyayangi Hasya layaknya adik sendiri. Selain itu, Dewa melihat Hasya seperti dirinya dimasa lalu.
“Temen kamu tau kalau selamat ini kamu kerja di kepolisian Sya?”
Hasya menggeleng, “Hasya gak berani ngasih tau Luna Mas. Apalagi tentang kelebihan Hasya ini, Hasya gak mau nambah beban pikiran Luna mas, hidupnya udah cukup berat.”
Dewa tersenyum, bersiap memberi wejangan ala-ala.
“Mas tau, tapi coba bayangin kalau kamu jadi Luna. Luna yang udah terbuka sama kamu tapi kamu selalu tertutup sama dia. Pasti ada dipikiran Luna kalau dia gak cukup kamu percaya buat dijadikan tempat kamu cerita. Dengan kamu cerita sama Luna itu cukup buat dia ngerasa dihargai dan dipercaya sama kamu Sya.”
“Ketidakterbukaan kamu ini ngebuat pertemanan kadang terasa renggang. Kamu khawatir kalau kamu cerita sama Luna maka beban Luna akan tambah gitu kan? Padahal hanya dengan cerita dan terbukan kalian bisa mengenal satu sama lain lebih baik.”
“Saran Mas mending kamu cerita sama Luna, coba terbuka sama dia. Gak ada salahnya untuk cerita ke teman sendiri, toh kalian udah berteman lumayan lama.”
Hasya mendengarkan dan mencerna dengan seksama wejangan dari Dewa. Dewa benar, ia terlalu tertutup pada Luna yang selalu terbuka padanya. Jika boleh jujur, banyak keluh kesah yang ingin Hasya ceritakan pada sahabatnya itu.
“Makasih Mas Dewa, Hasya ngerti kok. Hasya bakal coba buat lebih terbuka lagi.”
“Bagus. Btw Sya, kamu masih sekolah kapan? Minggu ini udah masuk bulan Juli kan ya?”
“Hasya masuk sekolah tanggal 20 Juli Mas, deg-degan udah kelas 12 aja.”
“Kamu ada rencana lanjut kuliah Sya?”
Hasya bingung, ia sendiri belum menentukan apa yang akan ia lakukan selepas lulus nanti.
“Gatau Mas, Hasya nyesuain budget yang ada aja. Kalau emang memungkinkan ya Hasya bakal lanjut, kalau memang enggak ya mungkin Hasya bakal cari kerja dulu buat ngumpulin uang kuliah.”
“Kenapa gak kerja sambil kuliah aja? Kayak sekarang ini, kerja sambil sekolah.”
“Gak bisa mas, perhatian Hasya merasa terbagi kalau kayak gini. Hasya pengen kalau emang kuliah ya fokus kuliah, kalau kerja ya fokus kerja. Otak Hasya punya kapasitas dan tanggal capeknya sendiri Mas.”
Dewa mengangguk paham, dan percaya bahwa semua keputusan Hasya adalah yang terbaik untuknya.
–wnsscc