Tolong
“Yang gue liat kemarin itu lo kan?”
Hasya memutar bola matanya malas, ia mengabaikan cowok yang masih menatapnya penasaran.
“Just answer the damn question Hasya.”
“None of your bussiness. Kenapa lo kepo banget sih? Did we know each other?”
“We're a classmate, and i know you since kelas sepuluh.”
“I don't care.”
Hasya berjalan pergi meninggalkan seorang Nalendra yang masih pemasaran.
“Hasya, please help me.”
Langkahnya terhenti, ia menoleh ke belakang dengan satu alis yang terangkat.
“Gue tau lo kerja di kepolisian kan? Help me, please?”
“Help you for what?”
Ale langsung menarik lengan Hasya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Ia ingin bicara serius dan tidak disini, keadaan koridor memang sepi, tapi pasti ada saja yang berlalu lalang disana.
“Lepasin, apa-apaan sih lo?”
Ale melepaskan genggamannya. Sekarang mereka sedang berada di taman sekolah yang sepi.
“Kakak gue korban pemerkosaan lima bulan yang lalu. Pelakunya belum ketangkep sampai sekarang. Gue udah lapor polisi, mereka nanggepin, tapi gak pernah anggep serius kasus ini. Gue tau lo kerja di kepolisian setelah gak sengaja liat lo keluar dari ruang introgasi. Gue gak tau deh cara lo bisa kerja disana gimana, but i really need your help Hasya.”
“Gue janji gak bakal sebar apapun selama lo bantuin gue tangkep orang itu. I'll give you anything setelah lo tangkep dia.”
Hasya terdiam, ia bingung. Ia pernah mendengar tentang pemerkosaan lima bulan yang lalu, dan tidak pernah dibicarakan lagi sekarang. Team yang mengurusinya juga bukan teamnya, jadi Hasya tidak tahu perkembangan apapun tentang kasus itu.
“Gimana? I will help you, lo gak bakal kerja sendiri.”
“Deal. Tapi lo harus tutup mulut, ini kasus rahasia diantara kita.”