Anugerah

Kini Hasya duduk di taman rumah sakit sambil menunggu seseorang untuk datang. Seseorang yang akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Hasya ya?”

Hasya menoleh, lalu mengangguk. Tampak seorang pria yang kelihatannya masih muda ikut duduk disampingnya.

“Halo Hasya, saya Damar Fadhillah panggil Mas Damar aja. Saya dari kepolisian, masih magang, tapi kinerja mah oke.” ujar pria itu memperkenalkan diri.

Hasya tersenyum sambil mengangguk pelan untuk merespon. Gadis itu masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

“Tau gak Sya, kehadiran kamu sekarang ini adalah satu satu anugerah tau.”

“Maaf mas, tapi mas bisa jelasin ke saya gak ya tentang apa yang terjadi sebenarnya? Saya bingung mas jujur, dari tadi yang orang bilang cuma anugerah, anugerah, dan anugerah.”

Damar tersenyum, ada rasa tidak tega di dalam hatinya untuk memberi tahu semuanya pada gadis ini.

“Empat hari yang lalu kamu dan sekeluarga mengalami kecelakaan hebat.” Damar memulai ceritanya.

Hasya terkejut, tapi ia masih ingin mendengar penjelasan dari Damar lebih detail lagi.

“Mobil kalian mengalami tabrakan dengan truk makanan dan menyebabkan mobil kalian tergelincir ke dalam jurang. Walaupun tak terlalu dalam jatuhnya, tapi kerusakannya fatal.”

Belum selesai bercerita, Damar menghela nafas berat sebelum masuk ke inti tersedih dari kejadian.

“Akibat kecelakaan itu, kalian sekeluarga sempat dirawat di rumah sakit. Tapi maaf, ayah dan ibumu harus pergi terlebih dahulu. Luka yang mereka dapat cukup serius, sudah diusahakan dengan keras tapi takdir berkehendak lain. Maaf Hasya.”

Tetesan air jatuh dari kelopak mata gadis muda itu. Ia tidak menyangka bahwa hari indahnya harus berakhir seperti ini. Hari itu seharusnya mereka pergi bermain, tapi mengapa harus berakhir seperti ini?

Isakan tangis mulai terdengar, gadis itu tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Damar yang berada di sebelahnya memberanikan diri untuk menenangkan Hasya dengan menepuk-nepuk punggungnya. Jika Damar berada diposisi gadis ini, tidak tahu lagi apa yang akan Damar lakukan. Kepasrahan dan kesepian pasti menyelimuti dirinya.

“Hasya maaf, tapi kalau kamu ada butuh apa-apa bisa hubungi mas ya? Hasya juga yang sabar ya.”

Sore itu, waktu dimana Hasya harus menerima kenyataan pahit bahwa ia harus mengalami semua ini.

Hasya tidak yakin akan bisa terus hidup sendiri. Hasya adalah anak tunggal, dan ia harus mengalami semua ini?

–wnsscc