03 Maret 2016
Matanya perlahan terbuka, pusing di kepala pun juga datang menghampirinya. Ia perlahan menggerakkan jari-jarinya. Desisan keluar dari mulutnya, beberapa saat kemudian beberapa orang datang menghampirinya, menatapnya dengan kebingungan.
“Anugerah banget kamu bisa selamat dek.”
Tidak terlalu jelas, tapi kalimat itu dapat ia dengar. Anugerah? Memangnya apa yang terjadi? Hal terakhir yang ia ingat adalah canda tawa bersama ayah dan ibunya.
“Gak tega ngasih kabar buat anak seusia dia.”
Kabar? Kabar apasih? Sebenarnya apa yang terjadi? Gadis itu mulai mengangkat tubuhnya saat ia sudah berada di kesadaran penuh. Tapi orang-orang berseragam putih ini langsung menghampiri dan menahannya.
“Aduh, jangan langsung duduk, tiduran dulu aja ya.”
Setelah merebahkan tubuhnya kembali, gadis itu mencoba untuk membuka suara, ia benar-benar bingung.
“Maaf, ini dimana ya? Terus ada apa ya sebenernya?”
Tidak menjawab, pria paruh baya itu malah menatapnya penuh iba. Tatapan yang membuatnya semakin bingung.
“Adek istirahat dulu ya, nanti kalau udah enakan suster ceritain semuanya.” jawab wanita disamping pria tersebut.
𝘚𝘶𝘴𝘵𝘦𝘳? 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘪𝘩? Bingung. Kepalanya juga terasa begitu pusing.
Gadis itu mencoba memejamkan matanya kembali untuk menghindari pusing yang amat ini.
Setelah berhasil tertidur, para orang-orang berseragam itu keluar dari ruangan dan meninggalkan gadis itu seorang diri.
Gistara Hasya Raeesa. Nama yang tertulis dipapan yang digantung diranjang miliknya.
–wnsscc